6 mins read

Workaround to Install Ubuntu 20.04 with Intel RST systems

Sudah hampir dua tahun sepertinya sejak terakhir mengisi blog ini dan setelah membersihkan jaring laba-laba yang sudah berdebu di website ini (saya sempat tidak dapat mengakses panel admin karena versi PHP yang tidak didukung oleh salah satu komponen dalam blog ini). Salah satu tulisan yang akan saya bagikan kali ini adalah perihal dual boot Windows-Linux pada salah satu Gear bekerja saya (Dell XPS 13).


Setelah lama tidak menggunakan dual boot karena Windows sudah menyediakan WSL2 pada Windows 11, kali ini saya diharuskan menginstall kembali Linux secara dual boot pada Notebook saya. Hal ini dilakukan karena saya butuh menggunakan LXD yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pada WSL2. Namun ternyata dengan konfigurasi yang ada pada default instalasi XPS 13 memberikan saya kesulitan dalam menginstall Linux secara dual boot. Berdasarkan beberapa riset, Distro Linux yang masih memungkinkan untuk di install pada modern Windows Laptop dengan Dual boot pilihannya hanya Ubuntu (saya mencoba menggunakan distribusi yang paling dasar sehingga pilihannya sangat sedikit yaitu Manjaro, Fedora, Debian, dan Ubuntu).

Ubah Opsi Safeboot pada Windows 11

Salah satu hambatan utama dalam instalasi Ubuntu pada laptop modern adalah fitur Secure Boot yang diaktifkan secara default. Meski bertujuan melindungi sistem dari bootloader yang tidak tepercaya, fitur ini sering kali menghalangi proses booting live USB Linux — terutama pada distribusi yang belum memiliki sertifikat tanda tangan Microsoft.

Catatan: Pada Dell XPS 13 dengan Windows 11, Secure Boot diaktifkan secara default dan dikombinasikan dengan konfigurasi Intel RST, sehingga perlu dilakukan dua perubahan sebelum Ubuntu dapat diinstal dengan benar.

Berikut langkah-langkah untuk menonaktifkan Secure Boot melalui BIOS/UEFI pada Windows 11:

Masuk ke BIOS/UEFI Settings

  1. Buka Settings → System → Recovery, kemudian klik Restart now di bagian Advanced startup. Windows akan me-restart ke menu pemulihan lanjutan.
  2. Pilih Troubleshoot → Advanced options → UEFI Firmware Settings, lalu klik Restart. Laptop akan restart langsung ke antarmuka BIOS.
  3. Alternatifnya, tekan tombol F2 (pada Dell) berulang kali segera setelah menekan tombol power saat laptop dinyalakan.

Menonaktifkan Secure Boot

  1. Setelah masuk ke BIOS, navigasikan ke tab Boot atau Security — lokasi bervariasi tergantung versi BIOS Dell yang terpasang.
  2. Temukan opsi Secure Boot dan ubah statusnya dari Enabled menjadi Disabled.
  3. Pada beberapa model Dell XPS 13, terdapat opsi tambahan Secure Boot Mode. Pastikan nilainya diubah ke Other OS atau Disabled.
  4. Simpan perubahan dengan menekan F10 atau pilih Save & Exit, kemudian konfirmasi dengan menekan Yes.

Perhatian: Menonaktifkan Secure Boot secara teoritis membuat sistem lebih rentan terhadap bootloader berbahaya. Namun untuk keperluan dual boot dengan distribusi Linux tepercaya seperti Ubuntu, hal ini adalah praktik yang umum dan aman dilakukan.

Setelah Secure Boot dinonaktifkan, sistem sudah siap untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu mengubah konfigurasi storage controller. Langkah ini diperlukan karena Intel RST (Rapid Storage Technology) — yang digunakan Dell XPS 13 secara default — tidak dikenali oleh installer Ubuntu.

Ubah Konfigurasi HDD dari Raid ke AHCI

Intel RST menggunakan mode RAID pada storage controller secara default di banyak laptop modern termasuk Dell XPS 13. Mode ini membuat drive NVMe tidak terdeteksi oleh installer Ubuntu, sehingga proses partisi tidak dapat dilakukan. Solusinya adalah mengubah mode controller dari RAID ke AHCI (Advanced Host Controller Interface).

Peringatan Kritis: Mengubah mode storage dari RAID ke AHCI secara langsung tanpa prosedur yang benar akan menyebabkan Windows tidak dapat booting (Blue Screen of Death / BSOD). Ikuti langkah di bawah ini dengan teliti untuk menghindari kehilangan data.

Prosedur yang aman adalah dengan terlebih dahulu mengaktifkan mode Safe Boot pada Windows sebelum mengubah konfigurasi BIOS. Ini memaksa Windows untuk me-reload driver storage yang kompatibel saat pertama kali boot dengan mode AHCI.


Langkah 1 Aktifkan Safe Boot di Windows (via CMD sebagai Administrator)

Buka Command Prompt atau Windows Terminal sebagai Administrator, kemudian jalankan perintah berikut:

# Aktifkan Safe Boot minimal
bcdedit /set {current} safeboot minimal

Restart Windows, tetapi jangan membiarkan Windows boot sepenuhnya — masuk ke BIOS terlebih dahulu dengan menekan F2.


Langkah 2 Ubah Mode SATA Controller di BIOS

  1. Saat restart, segera tekan F2 untuk masuk ke BIOS Dell.
  2. Navigasi ke tab Storage atau System Configuration.
  3. Cari opsi SATA Operation atau Storage Interface.
  4. Ubah nilainya dari RAID On menjadi AHCI.
  5. Simpan dengan F10 dan restart.

[Tangkapan layar: Dell BIOS → System Configuration → SATA Operation: AHCI]


Langkah 3 Nonaktifkan Safe Boot setelah Windows berhasil booting

Windows akan booting dalam Safe Mode dan secara otomatis menginstal driver AHCI yang sesuai. Setelah berhasil masuk Windows dalam mode aman, buka kembali Command Prompt sebagai Administrator dan jalankan:

# Nonaktifkan Safe Boot — kembali ke mode normal
bcdedit /deletevalue {current} safeboot

Restart sekali lagi. Windows seharusnya sekarang dapat booting secara normal dengan mode AHCI yang aktif.

Verifikasi: Untuk memastikan mode AHCI sudah aktif di Windows, buka Device Manager → IDE ATA/ATAPI controllers. Jika terlihat entri Standard SATA AHCI Controller, berarti konfigurasi berhasil.

Setelah kedua langkah di atas selesai — Secure Boot dinonaktifkan dan mode storage diubah ke AHCI — laptop sudah siap untuk proses instalasi Ubuntu secara dual boot. Langkah selanjutnya adalah melakukan booting dari live USB Ubuntu dan menjalankan installer seperti biasa.


Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan Happy Coding! 

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch